Pesantren
Modern Unggulan Terpadu Darul Mursyid (PDM) yang terletak di desa Sidapdap Simanosor
Kecamatan Saipar Dolok Hole Kabupaten Tapanuli Selatan merasa sangat kurang nyaman
dengan seringnya mati arus listrik akhir-akhir ini. Pernyataan tersebut di
sampaikan oleh Syarifuddin Nasution Wakil Direktur Darul Mursyid di kantornya 26
September 2013. Menurutnya akibat sering mati arus listrik, maka pengalihan ke cadangan
listrik (genset) yang berkapasitas besar yang dimiliki Darul Mursyid terus terjadi
agar Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di sekolah tersebut tidak terkendala.
“Guru-guru kita dilengkapi oleh sarana elektrik saat mengajar yakni menggunakan
laptop dan LCD besar sebagai media pembelajaran, jadi semua alat tersebut harus
terus aktif”, paparnya.
Darul Mursyid adalah
salah satu lembaga pendidikan yang memiliki kelengkapan alat-alat elektronik untuk
mendukung kegiatan belajar mengajarnya. Berdasarkan data dari pesantren tersebut
bahwa setiap departemen di lembaga tersebut memiliki alat elektronik seperti lembaga
pendidikan komputer Darul Mursyid memiliki 100 unit komputer LCD. Warnet Darul Mursyid
memiliki 10komputer. Setiap kelas MA Darul Mursyid memiliki televisi LCD 40
inci berjumlah 9 unit televisi. Seluruh perkantoran Darul Mursyid memiliki 58
unit laptop dan 24 unit printer serta 1
unit mesin photo copy. Guru-guru Darul Mursyid memiliki 38 unit laptop. Data tersebut
belum termasuk yang ada di rumah-rumah guru dan karyawan yang dipastikan setiap
rumah di komplek Darul Mursyid memiliki satu unit televisi. “Semua alat-alat elektronik
yang kami miliki tidak berfungsi bila tidak dihidupkan dengan genset”, pungkasnya.
Sementara itu
Ketua Umum Yayasan Pendidikan Haji Ihutan Ritonga (Yaspenhir) pengelola Darul Mursyid
Jafar Syahbuddin Ritonga mengatakan bahwa Darul Mursyid dilengkapi oleh genset
yang berkekuatan kapasitas tinggi untuk memasok listrik di komplek Darul Mursyid.
”Kita harus menghidupkan semua alat-alat elektrik di sekolah dengan mesin genset
saat mati lampu agar tidak terganggu jalannya KBM”, kata Jafar yang juga dosen
S2 MM bidang Sumber Daya Manusia (SDM). ”Selain di sekolah kita juga harus menghidupkan
listrik di semua fasilitas umum Darul Mursyid seperti asrama, masjid, aula, kantin,
jalan raya dan lain-lain agar semua aktifitas tidak terganggu”, papar pengusaha
muda tersebut. ”Namun dengan sering dan lamanya mati arus listrik PLN, maka konsekuensinya
adalah semakin membengkaknya biaya operasional yang dikeluarkan Darul Mursyid
karena menghidupkan genset”, urai pemilik Darul Mursyid tersebut. ”Minyak yang
digunakan untuk menghidupkan genset terlalu besar apalagi harga minyak mengalami
kenaikan, maka jelaslah mengakibatkan pembengkakan biaya gara-gara matinya arus
listrik PLN tersebut”, jabar mahasiswa S3 program DBA Universitas Sains
Malaysia (USM) di Pulau Pinang Malaysia tersebut. “Kita sangat berharap agar
masalah PLN ini secepatnya diselesaikan oleh pemerintah agar dampak yang timbul
tadi segera berakhir, sungguh sangat disayangkan negeri yang sudah merdeka begitu
lama kok masalah listrik aja tidak bias cepat dituntaskan”, pungkas Jafar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Ide, Kiritk, Pesan silahkan Anda tulis di sini